equilibrium

Sukabumi/ 6 april 2009

Usia kehamilan istri saya sudah memasuki bulan ke sembilan, dan sama sekali gak punya firasat kalau hari ini istri saya akan melahirkan.

Usai subuh, hari ini rencananya saya mau kembali ke Jakarta, karena setumpuk pekerjaan telah menunggu, namun gak tau kenapa, malas rasanya, mungkin karena keenakan liburan, maklumlah…

Pukul 00.00 saya dibangunkan istri, perutnya mules-mules katanya, saya yang sangat mengantuk cuma bisa bilang: iya, tahan aja, saya tarik selimut karna udara sangat dingin. Tak terlintas sedikitpun di benak saya, kalau istri saya akan melahirkan, sebab saya yakin istri saya akan melahirkan sekitar satu minggu lagi. Jadi saya lebih sepakat menganggap kejadian itu hanya kejadian biasa, dan lebih memilih tidur lagi. Pukul 00.30 saya kembali dibangunkan istri, perutya mules lagi, sekuat tenaga (karena ngantuk) saya mencoba menenangkan dia dengan mengusap-usap perutnya yang buncit. Akhirnya sakitnya reda katanya. Namun 30 menit kemudian mendadak dia merintih lagi. Saat itu saya berpikiran kalau dia benar-benar mau melahirkan. Saya bangun dan duduk di sampingnya kini (tentunya sambil menahan ngantuk dan dingin). Pukul 04.00 istri saya kayaknya benar-benar tidak tahan, saya sarankan dia untuk membangunkan mama. Mama meminta si istri agar tenang, karena mules-mules yang datang per 30 menit akan berubah menjadi per 10 menit dan per 5 menit.

Usai solat subuh pukul 05.00 mama membangunkan adik ipar saya Wisnu. Kini keduanya berangkat menggunakan motor mio ku menuju rumah sang bidan. Konon katanya ketika kembali ke rumah mama jalan kaki sejauh kurang lebih 2 kilo meter dari rumah si bidan, karena si Wisnu mbonceng si bidan (mertua yang baik).

Pukul 06.00 ponsel saya berbunyi, ternyata bapa dari Bekasi menelpon, loh ngga biasanya nih, kata saya, ternyata bapa menanyakan keadaan si istri, saya jawab dengan rasa haru sedikit, istri lagi mules-mules, kok bapa tumben nelpon? Ternyata bapa dan mama sudah puya firasat, luar biasa, kehendak tuhan memang sulit ditebak, namun begitu gampang diyakini. Di akhir pembicaraan bapa Cuma berpesan untuk menuliskan ayat surat al-Ikhlas sebanyak 8 kali di atas dua kertas, yang satu di masukkan ke dalam air putih untuk diminus si istri, dan yang satu dipegang. Sebagai anak yang soleh tentu saya menuruti kemauannya.

Seperti yang dikatakan mama, pada Jam-jam berikutnya si istri mulai mules-mules per 5 menit. Saya pun jadi sibuk menjadi tukang usap perut (mm pekerjaan yang cukup melelahkan).

Pukul 10.00 di dalam kamar kami, sudah ada sang bidan dan dukun beranak “paraji” disebutnya di sana. Saya tidak mau masuk ke dalam, karena rasa takut sudah datang. Saya cuma bisa menuggu di ruang tamu sambil baca-bacaan doa. Mama meminta saya untuk masuk ke dalam, tapi saya menolak. Perasaan yang ada pada saat itu sukar saya gambarkan di sini, sebab sangat kompleks, eksotis, fantastis! Perasaan yang tak ada tandingannya. Pukul 10.28 si istri merintih dengan sagat keras. Mama meminta saya untuk kedua kalinya masuk ke dalam kamar, kali ini saya mengiyakan, baru satu langkah saya masuk dalam ruangan. Ternyata si bayi telah lahir. Saya cuma bisa memegang tangan istri saya. Perasaan suka cita dan haru saya rasakan. Kini saya resmi menjadi seorang bapak.

Beberapa menit kemudian si bayi telah ada di tangan saya, katanya beratnya 3 kilo dua ons dan panjangnya 52 cm. Saya adzani kuping kananya dan komat di kuping kiri. Dan kembali diserahkan ke ibu bidan. Saya ambil posel, saya telpon bapak, bapak sangat senang nampakya.

Oktober 2016
S S R K J S M
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip

Twitter Terbaru